Batubara Kalimantan Tengah14 Juni 2008
Tuesday, 20 May 2008
Salah satu daerah di Indonesia yang paling banyak
menyimpan potensi alamnya adalah Kalimantan Tengah. Daerah ini memiliki areal
pertambangan yang luar biasa, khususnya batubara.Siapa pun pasti akan mengakui
bahwa Indonesia
memiliki kekayaan alam yang tidak terbilang banyaknya. Bahkan kekayaan tersebut
meliputi seluruh sektor, mulai dari kehutanan, perkebunan, pertanian,
peternakan, perikanan darat dan laut, sampai pada pertambangan.
Kalimantan Tengah salah satunya. Daerah
ini memiliki potensi pertambangan batu bara sekitar 3,5 miliar ton. Angka yang
amat fantastis untuk bisa mengangkat kesejahteraan rakyatnya. Dari angka
tersebut, diperkirakan ada sekitar satu miliar ton yang merupakan batubara
pembuat kokas (cooking coal), yaitu jenis batubara terbaik dengan harga yang
relatif tinggi. Sejauh ini, batu bara terbaik hanya ada di wilayah Kalimantan
Tengah dan Kalimantan Timur. Artinya, peluang untuk mengembangkan sektor
pertambangan bagi Kalimanan Tengah, sangatlah besar.
Bayangkan saja, saat ini harga batu bara
jenis kokas mencapai US$100 per ton, sementara harga batubara jenis termal
US$60 per ton. Namun, pasar batu bara kokas masih terbatas, karena hanya
menjadi konsumsi pabrik peleburan baja.
Di Kalimantan Tengah ada lebih dari 247
kuasa pertambangan (KP) batubara dan 15 pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan
Batu Bara (PKP2B). Ke-15 perusahaan tambang itu tersebar di Kabupaten
Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, dan Barito Timur.
Namun sayangnya, dari sekian banyak
PKP2B yang dikeluarkan, baru satu yang beroperasi, yakni Marunda Graha Mineral
dengan kapasitas produksi sekitar 1,2 juta ton pada tahun 2006. Sedangkan PT
Lahai Coal, anak perusahaan BHP Billiton, baru mulai berproduksi pada kuartal
terakhir 2007. diperkirakan, perusahaan ini akan memproduksi sekitar 700.000
ton per tahunnya.
Sebenarnya, batubara di Kalimantan
Tengah sudah mulai ditambang sejak awal abad 19. Misalnya saja tambang batubara
yang dilakukan di dekat Muara Teweh pada tahun 1910 dan saat itu sudah mampu
menghasilkan sekitar 7.000 ton pertahunnya. Ketika terjadi perang dunia II,
produksi berkurang, kemudian berhenti total sekitar tahun 1960.
Pada perkembangan berikutnya, dilakukan
survey tentang keberadaan batubara di Kalimantan Tengah yang dilakukan pada
tahun 1975 oleh beberapa institusi, baik pemerintah maupun perusahaan asing,
salah satunya PT BHP-Biliton. Dalam survey itu diperoleh data yang menyebutkan
bahwa terdapat sekitar 400 juta ton batubara dengan nilai kalori >7.000 berkualitas
baik.
Potensi batubara juga ditemukan di Muara
Bakah, Sungai Montalat dan Sungai Lahei, Kabupaten Barito Utara dan di
Bakanon, Sungai Maruwai, Kabupaten Murung Raya bagian utara. Sedangkan di Kabupaten Kotawaringin Timur, daerah yang memiliki potensi
batubara yaitu Kecamatan Mentaya Hulu, Mentaya Hilir, dan Cempaga.
Sementara di
Kabupaten Katingan ada di Kecamatan Katingan Tengah dan Tewang Sanggalang
Garing, dan untuk Kabupaten Gunung Mas terdapat di Kecamatan Tewah,
Rungan, Kurun, Manuhing, serta Kabupaten Kotawaringin Barat ada di Pangkalan
Banteng dan Kotawaringin Lama.
Lapisan batubara yang dihasilkan
daerah-daerah itu mempunyai ketebalan mencapai 1,5 – 7 meter dan mempunyai
kualifikasi ‘Cooking Coal’ dengan kandungan air 8,74 – 15,53 %, Volatile
Matter 0,39 – 1,76 %, Karbon 38,44 – 48,66 %, Sulfur 0,35 – 0,46 %, Nilai
Kalori 7.000 – 8.000 cal/gr dan CSN 5 – 7.
Batubara dengan cadangan hipotetik
diperkirakan mencapai 528.974.534 ton dengan kadar kalori 4.656-8.415 Cal/Kg,
Sulfur 0,11-5,07 % dan Ash Content 1,40-13.00 % Ash. Lokasinya terdapat
di Kecamatan Gunung Purei, Teweh Timur, Lahei, Gunung Timang dan Teweh Tengah.
Sampai bulan April 2007, produksi
batubara Kalimantan Tengah baru mencapai 1.470.793 ton. Dari produksi tersebut,
mayoritas digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. Minimnya
produksi batu bara di Kalimantan Tengah, terlihat jelas dari APBD 2006 yang
mayoritas (85%) diperoleh dari sektor pajak kendaraan bermotor.
Padahal untuk PKP2B, sumber daya batu
bara tereka mencapai 809,58 juta ton, terunjuk 642,06 juta ton, dan klasifikasi
terukur mencapai 1,83 miliar ton. Sementara Kuasa
Pertambangan (KP), potensi batu bara yang tereka mencapai 586,54 juta ton,
terunjuk 506,89 juta ton, dan terukur mencapai 195,81 juta ton.
Untuk izin usaha pertambangannya,
pemerintah sudah mengeluarkan sebanyak 267 buah, terdiri dari 5 KK (kontrak
karya), 15 buah PKP2B, dan 247 KP, dengan total luas areal pertambangan
mencapai 2,1 juta hektar.
Berdasarkan data dari Pemerintah
Provinsi Kalimantan Tengah, besarnya potensi pertambangan yang kurang
memberikan kontribusi terhadap kas daerah lebih disebabkan oleh tidak
jelasnya jumlah keuntungan yang didapat dari sektor
pertambangan ini, karena kuantitas ekspor atau penjualan pertambangan hasil
dari eksploitasinya tidak pernah terdaftar.
Kendala
Persoalan tersebut tidak lepas dari
kondisi infrastruktur transportasi angkutan hasil tambang yang masih sangat
buruk. Akibatnya banyak pengusaha batubara yang mengeluh, karena 80% jalannya
rusak. Padahal dalam sehari, rata-rata batubara yang diangkut minimal 120.000
ton.
Selain itu, Kalimantan Tengah juga tidak
memiliki pelabuhan batu bara yang memadai. Selama ini, hanya mengandalkan
transportasi air sungai. Sehingga ketika musim kemarau tiba, sungai pun
menyusut, akibatnya pengangkutan tambang yang berkapasitas besar sering
mengalami penundaan.
Karena itulah, perlu dibangun
infrastruktur rel kereta api serta pelabuhan batu bara, dengan harapan bisa
mengangkut batu bara dalam skala besar. Rencananya, pemerintah setempat akan
membangun rel KA untuk ruas Puruk Cuhu-Mangkatip sepanjang 250 km, peningkatan
jalan eks hak pengusahaan hutan (HPH) Sungai Hanyu Mangkatip, pembangunan
pelabuhan ekspor batu bara (dry port) di Desa Mangkatip, serta membangun pelabuhan
di Bahaur Sungai Kahayan, Matalayur, Samuda di Sungai Mentaya, dan Teluk
Siginton.
Dan, bukan hanya untuk kepentingan
angkutan batubara saja, karena Kalimantan Tengah juga masih menyimpan potensi
lainnya, seperti kandungan emasnya yang mencapai 16%,
bijih besi 7%, zirkon 2,5%, serta kromit 0,5%. Untuk biji emas primer, mampu
diproduksi sekitar 3,3 juta ton biji, dengan grade rata-rata 2,75 gr per ton,
emas primer dan emas sekunder 74 juta meter kubik, pasir grade 200 miligram per
meter kubik, bijih besi 42 juta ton grade 60%. Sementara besi dan zirkon lebih
dari 1 miliar meter kubik dengan grade 0,7 kg per meter kubik.(Teguh/M-02)
Last Updated ( Friday, 06 June 2008 )
Sumber : http://milimeterindonesia.com
|